Showing posts with label hati. Show all posts
Showing posts with label hati. Show all posts

Friday, December 10, 2010

Menjaga Hati

Bulan sudah berganti dengan meninggalkan hanya sedikit cerita tertulis. Akhir tahun ini diwarnai banyak peristiwa, suka dan duka. Akhir tahun ini dipenuhi banyak hal untuk direnungkan. Tentang persahabatan, tentang keluarga, tentang harapan, tentang jarak, tentang kasih.

Malam-malam yang dilewati menjadi begitu berharga dan sayang bila disia-siakan. Perbedaan zona waktu dan jarak yang jauh adalah tantangan yang harus dihadapi dengan bijak, menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam menjalin hubungan jarak jauh. Jadilah sekarang jarang menulis. Masih ada kesempatan lain untuk menulis, jadi sekarang sedang melakukan manuver prioritas.

Itu mengenai situasi dalam cerita mengenai diri sendiri. Lain lagi cerita yang sedang bergulir di luar diri ini. Saat harus bersinggungan dengan orang-orang di sekitar.. Ada hal-hal yang sampai ini ditulis masih belum dipahami. Tidak dapat diungkapkan kepada banyak orang. Sambil berusaha introspeksi diri sendiri, mencari penyebabnya, dan mencari cara menyelesaikannya. Ujung-ujungnya buntu, jadi menjalaninya dengan didasari doa minta tolong supaya Tuhan yang tunjukkan cara bagaimana menghadapinya dan memampukan saat harus bersikap benar bila ternyata sang inisiatif dan perdamaian itu bergantung padaku.

Bagaimana dengan hari esok? Inilah yang harus aku hadapi: acara-acara Natal yang pasti harus berhubungan dengan banyak orang, tugas-tugas pekerjaan yang harus selesai sebelum pulang, orang-orang yang semakin sensitif dalam hari-hari sibuk ini, dan saat mengenalkan 'new comer' kepada komunitasku. Di luar pergumulan-pergumulan pribadi yang hanya kepada Tuhan bisa aku sampaikan.

Oh, Tuhan, tolong anakMu ini.

Friday, August 27, 2010

Menciptakan Suasana Hati yang Positif

Bila tulisan ini setipe dengan tulisan-tulisan sebelumnya, berarti memang benar ini tulisanku. Bila ada ungkapan yang sama, yang pernah digunakan sebelumnya, berarti benar aku yang menulisnya, bukan orang lain. Sebenarnya hal ini sekaligus menjadi sarana buat mengetahui suasana hati penulis yang sesungguhnya. Di tengah malam, di dalam independensi, di sisi lawan kompleksitas saat-saat matahari membagi energinya. Kalau diposting tidak pada real time penulisannya itu karena dalam hati ini sudah dipenuhi berbagai cerita yang harus diurai sedikit demi sedikit supaya bisa tertuang dengan runtut dan jelas. Jelas buat penulis sendiri, jelas buat siapapun yang baca halaman ini, entah sengaja mampir atau karena nyasar… hehe..

Hari Minggu yang lalu.., bukan hari yang sempurna untuk penulis. Hari Minggu tersebut seperti menambah daftar kekalahan penulis terhadap diri sendiri. Egoism tanpa dasar yang jelas seakan begitu cepat memindahkan penulis dari scene suasana surgawi ke padang gurun yang tandus. Suasana ibadah penuh pengabdian yang dibangun sejak subuh berubah saat siang datang dengan terik panas dalam arti kiasan dan arti sesungguhnya. Mengistirahatkan pikiran dan mendung hati dengan tidur cukup membantu, saat tiada seorangpun bisa memahami. Betapa sebuah egoism yang bukan hanya mendatangkan ketidakpuasan terhadap diri sendiri tapi juga berpotensi mengakibatkan pihak-pihak lain mempunyai persepsi yang bukan positif terhadap penulis.

Senin.. tidak ingin bercerita banyak tentang hari ini. But God knows.. betapa hati ini bersyukur.

Selasa.. mengingat lagi bahwa ujian datang dan pergi, silih berganti. Ujian yang tersirat dalam tulisan sebelumnya, berangsur cepat selesai di hari tersebut. Belum 100% selesai rasanya. Tapi cukup melegakan. Memberi cukup waktu untuk menghela nafas panjang, menghadapi the next continuing steps..

Rabu.. serasa disadarkan bahwa ada standar-standar yang bukan mustahil untuk dipenuhi. Berpikir, adakah kondisi yang berbeda dengan standar yang sama. Haha.., dasarr.., loba kahayang…

Kamis.., mengucap syukur saat hati ini bisa menerima segala yang terjadi dengan sikap yang positif. Saat orang lain menikmati lebih, Tuhan memberi cukup. Tuhan juga bekerja, menguatkan pengendalian diri penulis untuk tetap bersyukur daann.. diam.

Jumat, yang sudah lewat beberapa saat lalu.. melengkapi minggu ini dengan cerita kehidupan yang ajaib. Baru terpikir untuk datang mendonorkan darah golongan langka (berarti manusia langka ateuhh..). ralat aja ah.. Baru terpikir untuk datang langsung ke UTDC sambil memperdalam wawasan wiyatamandala (qiqiqiqi…) Eee.., datanglah telepon bahwa diperlukan donor untuk golongan darah AB. Kesulitannya, 2 minggu silam baru diadakan donor darah di gereja sehingga banyak teman yang sekarang masih dalam masa tenggang untuk donor lagi. Kesampaianlah daku ke kantor UTDC.. dan masih lolos fit and proper test for blood donor.. hehe.. BB cukup, hb cukup, tension cukup.. padahal seharian ga selera makan. Maksudnya ga selera makan nasi jatah.., tapi makan segala yang lain..

Contentment.., promises.., renungan di kebaktian guru.., semuanya seperti mengingatkan.., untuk terus percaya bahwa Tuhan selalu ada dimanapun dan apapun keadaan kita.

Besok.., eh hari ini…, berencana melakukan 1 lagi kebaikan. Which is accompanying a friend for blood donor. Di bulan saat orang-orang mengejar pahala…, kira-kira berapa besar lumbung pahalaku ya…??? Hahahahahahahahahahahaha…., what a unnecessary thought.. Bila kerendahan hati menjadi suatu hal yang dibangga-banggakan lantas dimana bisa ditemukan esensi dari kerendahan hati tsb. Berarti ya tidak rendah hati…, so simple…