Friday, August 27, 2010

Menciptakan Suasana Hati yang Positif

Bila tulisan ini setipe dengan tulisan-tulisan sebelumnya, berarti memang benar ini tulisanku. Bila ada ungkapan yang sama, yang pernah digunakan sebelumnya, berarti benar aku yang menulisnya, bukan orang lain. Sebenarnya hal ini sekaligus menjadi sarana buat mengetahui suasana hati penulis yang sesungguhnya. Di tengah malam, di dalam independensi, di sisi lawan kompleksitas saat-saat matahari membagi energinya. Kalau diposting tidak pada real time penulisannya itu karena dalam hati ini sudah dipenuhi berbagai cerita yang harus diurai sedikit demi sedikit supaya bisa tertuang dengan runtut dan jelas. Jelas buat penulis sendiri, jelas buat siapapun yang baca halaman ini, entah sengaja mampir atau karena nyasar… hehe..

Hari Minggu yang lalu.., bukan hari yang sempurna untuk penulis. Hari Minggu tersebut seperti menambah daftar kekalahan penulis terhadap diri sendiri. Egoism tanpa dasar yang jelas seakan begitu cepat memindahkan penulis dari scene suasana surgawi ke padang gurun yang tandus. Suasana ibadah penuh pengabdian yang dibangun sejak subuh berubah saat siang datang dengan terik panas dalam arti kiasan dan arti sesungguhnya. Mengistirahatkan pikiran dan mendung hati dengan tidur cukup membantu, saat tiada seorangpun bisa memahami. Betapa sebuah egoism yang bukan hanya mendatangkan ketidakpuasan terhadap diri sendiri tapi juga berpotensi mengakibatkan pihak-pihak lain mempunyai persepsi yang bukan positif terhadap penulis.

Senin.. tidak ingin bercerita banyak tentang hari ini. But God knows.. betapa hati ini bersyukur.

Selasa.. mengingat lagi bahwa ujian datang dan pergi, silih berganti. Ujian yang tersirat dalam tulisan sebelumnya, berangsur cepat selesai di hari tersebut. Belum 100% selesai rasanya. Tapi cukup melegakan. Memberi cukup waktu untuk menghela nafas panjang, menghadapi the next continuing steps..

Rabu.. serasa disadarkan bahwa ada standar-standar yang bukan mustahil untuk dipenuhi. Berpikir, adakah kondisi yang berbeda dengan standar yang sama. Haha.., dasarr.., loba kahayang…

Kamis.., mengucap syukur saat hati ini bisa menerima segala yang terjadi dengan sikap yang positif. Saat orang lain menikmati lebih, Tuhan memberi cukup. Tuhan juga bekerja, menguatkan pengendalian diri penulis untuk tetap bersyukur daann.. diam.

Jumat, yang sudah lewat beberapa saat lalu.. melengkapi minggu ini dengan cerita kehidupan yang ajaib. Baru terpikir untuk datang mendonorkan darah golongan langka (berarti manusia langka ateuhh..). ralat aja ah.. Baru terpikir untuk datang langsung ke UTDC sambil memperdalam wawasan wiyatamandala (qiqiqiqi…) Eee.., datanglah telepon bahwa diperlukan donor untuk golongan darah AB. Kesulitannya, 2 minggu silam baru diadakan donor darah di gereja sehingga banyak teman yang sekarang masih dalam masa tenggang untuk donor lagi. Kesampaianlah daku ke kantor UTDC.. dan masih lolos fit and proper test for blood donor.. hehe.. BB cukup, hb cukup, tension cukup.. padahal seharian ga selera makan. Maksudnya ga selera makan nasi jatah.., tapi makan segala yang lain..

Contentment.., promises.., renungan di kebaktian guru.., semuanya seperti mengingatkan.., untuk terus percaya bahwa Tuhan selalu ada dimanapun dan apapun keadaan kita.

Besok.., eh hari ini…, berencana melakukan 1 lagi kebaikan. Which is accompanying a friend for blood donor. Di bulan saat orang-orang mengejar pahala…, kira-kira berapa besar lumbung pahalaku ya…??? Hahahahahahahahahahahaha…., what a unnecessary thought.. Bila kerendahan hati menjadi suatu hal yang dibangga-banggakan lantas dimana bisa ditemukan esensi dari kerendahan hati tsb. Berarti ya tidak rendah hati…, so simple…

No comments:

Post a Comment