Sunday, July 11, 2010

Mengatasi Rasa Takut

Judul pelajaran SM hari ini adalah “Aku Tidak Takut!”. Bahan pelajarannya tidak cuman dari petunjuk guru aja. Sejak Senin kemarin nyampe lagi di Bandung satu persatu serpihan peristiwa mengisi bagian-bagian kosong dari storyboard imajiner di dalam pikiran, membentuk keseluruhan bahan ajar yang disampaikan hari ini. Berikut ini penjelasan yang bisa dituliskan. Ceritanya jelas atau abstrak atau kurang lengkap mah biarin aja.

Yup, Senin jam 7.30 nyampe kos dari Semarang pake travel. Ada sesuatu yang baru muncul di kos-kosan. Rumah-rumahan kecil, terbuat dari rangka besi yang biasanya untuk bikin rak, atapnya seng. Ukuran benda baru itu berapa ya, dilihat dulu… Oh, dikira-kira aja ya, 30 x 30 x 100 cm. Ntar kalau bawa-bawa meteran untuk bener-bener ngukur bisa-bisa bikin bingung bagi yang berkepentingan.. Hehehehe…. Benda tersebut ditempatkan di depan kamarku. Bentuknya seperti pos ronda, hanya mini. Trus fungsinya apa? Tetangga sebelah kamar, beberapa kali dalam sehari, akan taruh buluh yang ujungnya disulut api, yang nantinya mengeluarkan asap dan bau ‘harum’, membawa suasana ‘mistik’ di sekitar basement rumah itu (yaitu lingkungan kamarku). Sebenarnya kebiasaan bakar buluh itu udah luama sekali sih, tapi baru hari Senin itu ada rumah-rumahannya. Beberapa kali pula, pada waktu tengah malam, dari jendela kamar yang dari kaca es terlihat bayangan nyala api kecil di ujung halaman mepet tembok. Dulu sampe jelas baunya khas, sekarang sih ga tau juga masih suka muncul bau2 itu atau tidak…atau karena sudah sering mencium bau tersebut jadi tidak peka lagi, entah… Kalau pagi ada bekas sesuatu dibakar di atas cobek tanah liat. Coba terka, apa itu? Suatu ajaran yang tidak diajarkan di Alkitab, yang dilakukan rutin oleh orang lain menjadi ibadah mereka, menurutku artinya adalah sesuatu hal yang menjadi tugas buat setiap murid Yesus untuk menjadi ‘saksi’ yang baik buat mereka yang perlu ditolong. Peristiwa ini juga jadi satu contoh bahan ajar bagaimana mengatasi rasa takut. Setiap kali berdoa, dengan mengakui bahwa Tuhan yang aku sembah adalah Tuhan yang Mahakuasa. Tuhan Allah yang adalah Pencipta langit, bumi, dan segala yang ada di dalamnya termasuk manusia, adalah lebih berkuasa dari segala kuasa yang dianggap ‘allah’ oleh orang-orang lain. “Tuhan, tolonglah supaya aku bisa jadi alat Tuhan untuk keluarga tersebut”, doaku.

Itu satu…

Trus, berlanjut ke apa ya… ntar, inget-inget dulu…

Ni baru hari Jumat sih kejadiannya. Waktu nyusun bahan ajar, kan mendata apa sih yang bisa membuat seorang yang bekerja (seperti akyu gitu…) bisa takut? Bukan melulu tentang masa depan sih… Masa sekarang, day by day, yang harus dihadapi, di dalamnya ada juga hal-hal yang patut diwaspadai.. Hubungan dengan teman di tempat kerja.. Kan harus baik hubungannya supaya tercipta lingkungan kerja yang menyenangkan. Tapi….. apa yang terjadi pada Jumat pagi saat akan mulai melarutkan diri dalam berbagai pekerjaan… Wajah tanpa ekspresi, tanpa sukacita sama sekali, datang untuk minta suatu daftar ke diriku.., membuat tubuh ini merespon sehingga akhirnya sedikit lemas, antara karena takut salah dan sedih.. Kenapa sih tidak memulai hari dengan senyum, ramah, ceria gitu… Kan bisa mempengaruhi jam-jam berikutnya. Mungkin lagi ada masalah di rumah, itu perkiraan yang terpikir saat ini. Pemecahannya? Klise… “Tuhan tolong dia menyelesaikan masalahnya dan tolong aku juga untuk bisa bekerja dengan baik”, doaku.

Satu lagi.. eh, masih dua hal ding, yang mau aku beberkan di sini.

Sabtu, liburrr. Setelah berdoa sekian lama mohon keberanian dari Tuhan, akhirnya datang juga kesempatan itu. Sekolah libur, kantor secretariat libur, aku libur, hanya ada satpam dan para tukang bangunan…jadi sepiiiii.. Berbekal surat-surat lengkap akhirnya pencet tombol start, masuk presneleng satu, masih deretdet..det..det… gitu sih…, melewati pintu teralis depan lobi… muter-muter deh di halaman gereja. Belok kanan, belok kiri, muter kanan, muter kiri…, pindah presneleng dua, hehehe… bisa juga akhirnya… mengendarai motor. Nyoba ke jalan raya.., keliling gereja-kos-kembali gereja, bisa…hehehehe… Senangnya hatiku… Wkwkwkw… Tapi para angkot bikin seremmm.., brenti di jalurku. Satu tantangan terlewati. Tantangan berikutnya? Masih amat sangat banyak, salah duanya adalah belok kanan dan mengatasi jalan padat. Soalnya dari gereja-kos-gereja belok kiri terus. Learning by practicing.

Minggu, ke gereja. Jadi nyambung deh antara khotbah yang seharian bertema “PI adalah Perintah” ma peristiwa ke-1 di atas. Jadi nyambung deh bahan SM with my real experiences di peristiwa ke-1, 2 dan 3. Senangnya hatiku, pelajaran SMnya jadi hidup… Ditambah lagi cerita Paul si gurita untuk final World Cup 2010 Belanda vs Spanyol. Dasar murid Madya…, udah cowok semua, baru on kalau yang dibahas tentang sepakbola. Kaitannya apa antara si gurita ma cerita “Aku Tidak Takut!”? Ya, harus percaya kepada Tuhan saja, jangan percaya ke ramalan-ramalan apalagi kepada anggapan bahwa hewan bisa meramal. Seperti kata temen, “Hanya Tuhan yang harus kita percaya.”

Semua yang tampak bagaikan kepingan puzzle itu dipakai Tuhan untuk menjadi pelajaran berharga buat murid SM (semoga mereka mengerti) dan terlebih lagi mengajar aku. Bukti bahwa Tuhan Sang sutradara Agung, mengasihi setiap pribadi, termasuk diriku, dengan penyertaanNya yang ajaib. Kalau melihat kaitan cerita-cerita di atas, rasanya seperti Tuhan itu ada di dekatku, membantu aku mengenalNya, supaya aku yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya.

Terimakasih, Tuhan, sudah hadir dalam hidupku. Terimakasih buat pelajaran SM yang pas hari ini. Terimakasih buat khotbah yang pas hari ini. Terimakasih buat lagu-lagu yang sudah dimainkan hari ini yang sudah pas. Terimakasih buat Beneath the Cross, juga latihannya. Terimakasih buat semua yang akhirnya terangkai sempurna karena Tuhan. Terimakasih, Tuhan. I love You, Lord.

Menuliskan “I love You, Lord”, dengan mata berkaca-kaca, sambil menanti apa yang akan terjadi kemudian.

No comments:

Post a Comment