Saturday, October 9, 2010

Pergaulan Bebas Terbatas

Kenapa ya istilah 'pergaulan bebas' jadi negatif konotasinya? Padahal istilah 'perdagangan bebas' netral-netral saja diterima di masyarakat. Bukankah kita memang harus banyak bergaul? Berteman dengan sebanyak mungkin orang dan tidak membatasi diri dalam bergaul. Kalau membatasi pergaulan akan ada kemungkinan menjadi kurang pergaulan, mendapat stempel eksklusif lah, atau bahkan dinilai angkuh bin sombong.

Dalam konteks hidup sebagai orang-orang percaya memang diperlukan komunitas yang sepaham agar saling mendukung dalam pertumbuhan iman dan pengenalan akan Tuhan Yesus. Tapi kan bukan berarti antipati terhadap orang-orang yang tidak sepaham. Seperti tadi di pusat reservasi tiket KA, petugasnya bahkan mengenakan kaus tangan dalam melayani pelanggan. Tapi dia juga memberikan pelayanan yang sama untuk aku walau beda keyakinan, dan tetap ramah.

Back to the main issue..

Dalam seminggu ini ada 2 peristiwa yang membuat aku sendiri bingung menanggapinya. Entah harus kesal, bangga, senang, atau sedih.. Peristiwa yang dimaksud lebih tepat aku istilahkan apa ya.. Kalau ada sekelompok orang, berbagai usia dan latar belakang, sepakat agar seorang pria bujang dan wanita lajang menjalin hubungan yang lebih serius.., Anda pasti tahu sendiri apa istilahnya. Aku malas menuangkannya dalam tulisan. Bukan bermaksud jadi nasabah 'gedherumangsa.com' tapi mencapai usia sekian seperti yang aku tengah hadapi sekarang jadi otomatis terasa dengan sendirinya.

Untuk peristiwa yang pertama aku tetap yakin bahwa pasangan hidup diciptakan Tuhan saling melengkapi. Kalau yang satu ekspresif biasanya pasangannya lebih tenang. Dalam hal ini masuk kategori yang manakah diriku? Berarti biasanya, pasangannya adalah yang ... (sensor.com). Jadi, aku yang tidak tahan menghadapi 'euforia' dalam rapat tersebut langsung ngacir pulang begitu selesai doa penutup.

Kalau yang pertama tadi dibahas dalam forum resmi, yang kedua ini lain lagi ceritanya.

Once upon a time.., ketika sedang duduk menghadapi 'uang rakyat' untuk dirapikan sebelum disetor ke yang lebih berwenang, datanglah dua pria. Satu aku kenal sedang yang satu lagi masih asing. Duduk, bersalaman (sebagai orang Baptis), terus masuklah kepada pembicaraan. Topiknya mulai dari newsletter sekolah, kabar ibu, teman kantor, kantor tetangga, dll yang intinya tidak jelas inti maksud kedatangan beliau-beliau ini. Akhirnya setelah sekian lama, sedikit demi sedikit, dan secara implisit, aku menciptakan suasana yang memberi kesan tidak tepat kalau mereka berlama-lama duduk di depanku akhirnya mereka keluar dari ruangan.

Waktu berlalu, datanglah hari ini. Kesal hati mengenai berita-berita di antara teman-teman sendiri di fb lebih baik tidak usah dibahas. Postingan kali ini bukan untuk membahas mereka. Sudah terpikir untuk menuliskannya di lain postingan.

Tibalah saatnya membuat kopi-susu-krimer sebelum berangkat latihan paduan suara. Muncul tanda amplop di hp tanda ada sms. Ternyata sms dari orang asing yang kemarin datang ke kantor. Sama topiknya, yaitu tidak jelas. Semakin jelaslah arti kedatangan kedua orang yang datang ke kantor kemarin. Sampai sekitar jam 19-an ada beberapa sms dari orang yang sama. Dan jawaban sms dari aku rasanya standar, tanpa memberi kesan yang berpotensi menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam.

Dalam situasi ini sebenarnya bingung juga harus bersikap bagaimana. Ditambah lagi kalau minggu depan pulang ke orangtua ada satu lagi teman lama yang menantikan kesempatan untuk 'hangout' bersama. Waaaa.... pusing... Tidak juga dink.., biasa saja..

Belum tahu juga siapa yang sedang 'disiapkan' Tuhan jadi teman hidup. Apakah seseorang dari masa lalu, apakah seseorang yang saat ini sudah ada 'di depan mata', atau seseorang yang bahkan sampai saat ini belum pernah bertemu. Tapi sekarang masih dalam masa penantian sambil terus berdoa. Berdoa supaya jangan salah bertindak karena kekurangan kesabaran. Supaya yang terbaik yang datang. Tapi juga supaya bisa melihat saat Tuhan bawa dia datang, supaya tidak menolak yang Tuhan pilih.

Rasanya akan lebih menenangkan kalau dia adalah dari sekian orang yang sudah dikenal baik oleh orang-orang yang bisa dipercaya (seperti 3000 penilai untuk calon penerima Nobel), yang sudah dikenal baik oleh orangtua, yang latar belakang keluarganya juga baik, yang hidupnya baik-baik di dalam Tuhan.

Tapi satu yang pasti, harus yang sepadan di dalam Tuhan.

Andakah orangnya?

No comments:

Post a Comment