Aku mengaku bahwa:
Satu
Hari ini aku mungkin bikin kesel bapak-bapak yang terhormat.., di pagi hari karena tidak muncul di acara. Di sore hari karena aku mengalihkan tugas ke orang lain sehingga menimbulkan kesan aku menolak tugas.
Dua
Memang iya bahwa hari ini aku sedang mengalami ke-enggan-an di berbagai bidang
Tiga
Dua hal di atas membuatku berdoa minta ampun ke Tuhan.
Sebenarnya bukan semata-mata menolak tugas sih. Untuk acara malem tadi, sudah ada komisi yang bertanggungjawab, bersama pengurusnya. Kalau harus aku lagi yang menyiapkan lantas dimana semangat untuk menempatkan setiap orang pada tugasnya? Dimana semangat untuk menghapus 4L?
Tapi tetep aja kerasa selama acara, bapak yang terhormat meng-'highlight' penolakanku menyiapkan acara tadi. Dengan ungkapan2 yang diulang-ulang.., again and again..
Ya maaf, Pak.. Saya sedang berusaha mengatasi pergumulan saya sendiri. Semoga Bapak dengan kebijaksanaan dari Tuhan memaafkan saya. Saya hanya bisa diam, sambil bertanya-tanya dalam hati: "Apakah yang saya lakukan ini benar ataukah salah?"
Bukankah kalau saya yang lakukan tugas tadi hanya akan membiarkan para pengurus yang berwenang semakin tidak peduli dengan tugasnya? Bukankah kalau mereka tetap tidak peduli hanya akan menambah kelelahan pada otoritas di atas mereka? Bukankah kita sedang membangun komitmen pada keluarga besar ini? Ini komisi yang paling vital. Kalau orang2 yang di dalamnya mempertahankan ke-aku-an, ke-egois-an, dan ke-tidakpeduli-an, bagaimana bisa membangun suatu pondasi yang kuat?
Maaf kalau komitmen yang saya nyatakan dengan kehadiran dan partisipasi saya dinilai kurang. Maaf kalau sindrom yang saya alami datang pada waktu yang tidak tepat.
Apakah hal tsb akan merusak hari indahku, libur terakhir ini? No way.., I won't let them ruin my day.. Aku masih takjub sama si smart yang menghasilkan file film dengan kualitas gambar cukup baik daripada DVD bajakan. No subtitle is no problem. Udah ngerti maksud dialognya juga.
Thank you, Lord.
No comments:
Post a Comment