Wednesday, March 31, 2010

Few days before Good Friday

Great weeks.. Banyak perkara yang tak dapat kumengerti. Kesabaran diuji. Kedewasaan emosi diuji. Kerendahan hati juga diuji. Bahkan baca status & comments di fb seringkali membuat bingung di hati.. Tapi jadi semakin yakin utk tidak menggunakan fb sebagai alat "pengawas kepribadian seseorang". Tapi apa yang dikatakan seseorang, apa yang ditulis di fb, sesungguhnya keluar dari hatinya. Apa yang dipikirkan pasti itulah yang ditulis. Jadi kalau hari ini yang ditulis ayat2 Alkitab, tapi besoknya menulis kata-kata yang kurang pantas, apa namanya kalau gitu? Dalam hal ini sudah bingung mau cari pembenaran diri sendiri seperti apa yang mau dibuat untuk orang itu. Dalam hal ini, akhirnya hanya bisa menyerahkannya kepada Tuhan. Kalau lagu mah udah "Speechless" judulnya. Bukan "speechless" karena ke-dahsyat-an Tuhan tapi karena tidak habis pikir dan tidak bisa mengerti bahwa ada teman yang sepertinya sulit ditebak itu.

Pengaruh keluarga sangat besar dalam menyikapi hal seperti ini. Keteraturan, disiplin, kebiasaan-kebiasaan, yang ditanamkan dari kecil, itulah yang jadi tolok ukur dalam bergaul. Misalnya dalam hal pasangan hidup, tentu tolok ukurnya adalah yang terbaik yang bisa dilihat dan didapat dari orangtua. Bagaimana kriteria pasangan hidup adalah apa yang biasa ditemui di keluarganya. Misalnya, bagaimana tanggungjawabnya pada keluarga, tanggungjawab pada dirinya sendiri, dan juga tanggungjawab pada Tuhan dan gereja.

Masalahnya, dalam perkembangan pergaulan, ternyata ada yang faktanya 'gray area'. Prestasi kerja bagus.., tanggungjawab kepada keluarga cukup... Tapi loyalitas pada gereja Baptis..entahlah. Seberapa loyal pada gereja Baptis juga tidak tepat seperti yang dalam 'desain pikiran'. Perlakuan yang diberikan pasti juga akan dibandingkan dengan perlakuan dari keluarga sendiri. Bagaimana dia berusaha membuat pasangannya bahagia. Bagaimana caranya menghargai pasangannya. Bagaimana sikapnya di antara teman-teman sepergaulan. Banyak hal...ternyata.

Jadi, apa standar yang dibuat terlalu tinggi sehingga menyebabkan sulit membuka diri? Tapi bukankah seorang perempuan tetap harus membuat standar yang tinggi? Seorang kepala keluarga haruslah seorang pemimpin yang baik, yang memberi teladan yang baik, yang terlebih dulu bertanggungjawab pada Tuhan dan dirinya sendiri. Bagaimana bisa mengetahui tanggungjawabnya? Ya dari bergaul dan melihat sendiri bagaimana dia berkata-kata, bagaimana caranya menyelesaikan masalah, bagaimana dia memperlakukan kita di antara teman2nya, di antara teman2 kita juga.

Jadi, daripada berkompromi yang pada akhirnya ada potensi menyesal di kemudian hari, lebih baik berserah pada Tuhan dan tetap jalani Mazmur 37:7. Seperti sms yang dikirm entah siapa. Secret admirer..., may be. Ga mau ngaku sih... Tapi hebat juga, bertahan dalam konsistensi kirim sms walau ga pernah direspon.

Ya itulah pikiran pokok yang dikembangkan dalam hari-hari menjelang Jumat Agung 2 April 2010.

Pelampiasan emosi... Soalnya dari siang tadi udah emosi soal x. Ga dibahas dulu..., tidak mau kehilangan sukacita Paskah.. :)

Ok. Semoga pembaca mendapat manfaat. Gbu all.

No comments:

Post a Comment